Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian - Wijana Mojoagung
Loading post...

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian

 

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian

Sebagai seorang pemikir hebat yang menginspirasi banyak orang, Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno, berpendapat bahwa karakter itu bukan sesuatu yang lahir secara alami, tetapi dibentuk melalui kebiasaan. Prinsip inilah yang menjadi fondasi bagi Sekolah Wijana Mojoagung dalam mendidik anak-anak—bukan hanya lewat pembelajaran di kelas, tetapi juga lewat pengalaman nyata yang menanamkan nilai-nilai kehidupan. Walau pemikirannya itu disampaikan ribuan tahun yang lalu, namun prinsip itu masih relevan sampai saat ini. Melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh sekolah Wijana Mojoagung, kami ingin membentuk karakter anak-anak melalui pembiasaan. Salah satu kegiatannya adalah Life Study Camp.


Life Study Camp merupakan sebuah program kegiatan tahunan yang diikuti oleh siswa-siswi kelas IV-VI. Dalam kegiatan ini, mereka dibawa ke camping ground untuk hidup jauh dari keramaian dan dari orang tua selama 3 hari 2 malam. Beragam aktivitas mereka lakukan di sana, dan menjadi bagian dari proses penguatan beragam karakter baik anak, seperti kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, dan sebagainya. Tahun ini, kegiatan Life Study Camp berlangsung di Lembah Giri, Wonosalam, pada Rabu-Jumat, 27-29 Agustus 2025.

Baca Juga: Kelas Inspirasi 2024 – Guru Hebat, Indonesia Kuat


Sebuah Awal Perjalanan

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian
Persiapan pemberangkatan | Dok. Sekolah

 

Sebelum keberangkatan ke lokasi camping, anak-anak berkumpul di sekolah. Selain untuk pengarahan dan doa bersama, para pembina juga melakukan inspeksi barang bawaan. Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak ada barang-barang lain yang dibawa oleh anak-anak selain yang sudah ditentukan, termasuk mainan.


Baca Juga: Outing Class TK: Naik Kereta Menuju Kebun Binatang Surabaya


Setelah itu, para rombongan menuju ke lokasi. Sekira 45 menit menempuh perjalanan, rombongan sampai di Wonosalam, dan menurunkan barang-barang bawaan yang sebelumnya telah diangkut oleh mobil pick up.

Bersama Dirikan Tenda

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian
Anak-anak bekerja sama mendirikan tenda | Dok. Sekolah

 

Sesampainya di sana, anak-anak beristirahat sejenak untuk makan siang. Tak berselang lama, anak-anak pun segera diajak untuk mendirikan tenda. Mereka pun membagi tugas agar tenda mereka dapat berdiri dengan kuat dan bertahan selama 3 hari ke depan. Butuh waktu sekitar satu jam setengah bagi mereka untuk mendirikan tenda, menata, dan membuat tenda mereka dapat ditempati. Tak hanya anak-anak, para guru pun juga harus mendirikan tenda dan posko.


Ada beberapa aktivitas yang telah disiapkan oleh Kak Arik Sugiarto, selaku kakak pembina Pramuka yang akan mendampingi kami dalam kegiatan ini. Di hari pertama ini, anak-anak lebih diajak untuk melakukan aktivitas kepramukaan. Anak-anak dengan begitu bersemangat mengikutinya, apalagi masih hari pertama, tentunya energi mereka masih cukup banyak untuk melakukan aktivitas di hari ini.

Baca Juga: Cooking Day sebagai Sarana Latihan Kemandirian, Leadership, dan Manajemen


Makan Sederhana dan Seadanya

Jika saat di rumah anak-anak bisa makan sesuai permintaan, berbeda dengan saat mereka di camp ini. Di sini anak-anak harus mau makan apa saja yang sudah disediakan. Tak ada pilihan selain memakan apa yang telah disajikan. Tak ada jatah dan menu lain yang disiapkan. Walau ada yang awalnya tidak mau, namun karena “dipaksa”, akhirnya malah ada beberapa anak yang minta tambah. Beragam menu disajikan. Mulai dari lodeh, pecel, hingga sayur asem. Semua harus makan, semua harus dihabiskan.

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian
Mandiri mencuci piring sendiri | Dok. Sekolah

Selesai makan, mereka pun harus bertanggung jawab untuk mencuci peralatan makan yang telah mereka gunakan. Tak peduli pagi, siang, atau malam, mereka tetap harus membersihkan peralatan makan sendiri. Di sini, mereka sungguh-sungguh belajar hidup mandiri.


Mandiri Sejak Dini

Sebagai bentuk dari latihan kemandirian, anak-anak pada hari kedua ini diminta untuk memasak untuk makan malam mereka sendiri. Sebelumnya, mereka sudah mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Sedangkan bahan masakannya telah disediakan sekolah. Kali ini, mereka akan memasak sayur sop. Menggunakan tungku sederhana dari kaleng, kapas, dan spiritus, mereka mulai memanaskan air sambil mengiris bahan-bahan masakannya.

 

Life Study Camp 2025: Sebuah Perjalanan Menuju Kemandirian
Kebersamaan dalam memasak makanan | Dok. Sekolah

Keseruan mulai terlihat ketika mereka mulai memasukkan bumbu masakan. Sesekali mereka mencicipi masakan mereka. Mereka pun mulai menambahnya dengan garam dan bumbu-bumbu lainnya. Dengan begitu bersemangat mereka memasak dan menunggu masakan mereka matang.

Baca Juga: Outing Class SD: Belajar Membatik di Tempat Terbaik


Adaptif di Setiap Keadaan

Tahun ini, kondisi alam memang sulit diprediksi. Siang begitu terik, namun menjelang sore, tetiba hujan datang. Di hari pertama, alam begitu bersahabat. Tak ada hujan turun membasahi kami. Namun, berbeda untuk hari kedua. Sedari siang, mendung sudah menghampiri. Sekira pukul 15.30, hujan akhirnya turun dan memaksa kami harus memasuki tenda. Anak-anak pun diminta untuk bergerak cepat dan mengamankan pakaian serta barang-barang mereka agar tidak basah. 


Setelah satu jam mengguyur kami, hujan pun terhenti. Anak-anak pun disiagakan untuk memulai memasak. Satu jam berselang, hujan pun turun lagi dengan derasnya. Beruntung masakan anak-anak sudah matang semua. Oleh sebab itu, anak-anak pun harus makan di dalam tenda mereka masing-masing. Walau demikian, hujan tak dapat mengurangi semangat mereka. Anak-anak tetap dengan begitu antusias menikmati setiap sendok makanan mereka, dibumbui dengan kebersamaan dengan teman-teman.

Penutup

Orang yang benar-benar mandiri adalah mereka yang memiliki keberanian untuk memikul tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
- Daisaku Ikeda, Filsuf dan Pendidik asal Jepang

Kemandirian memang menjadi sebuah fondasi yang harus senantiasa dikuatkan. Kemandirian yang mereka latih sejak dini, mulai dari mencuci piring hingga berani memasak sendiri, adalah langkah kecil namun berarti menuju keberanian memikul tanggung jawab hidup mereka di masa depan. Semuanya tentunya demi masa depan anak-anak. Karena tentunya kita semua tahu bahwa anak-anak tak akan selamanya bersama dengan orang tuanya. Maka, sekolah Wijana Mojoagung bergerak bersama orang tua untuk mendukung program-program kegiatan sekolah demi mendukung perkembangan kepribadian anak tersebut. Kami percaya, pengalaman seperti ini akan menjadi bekal berharga yang tak terlupakan bagi anak-anak. (ADK)

Penulis
Antonius Dwi K., S.Pd.
Sie Kesiswaan SDK Wijana

 
Program Kami

Formulir Kontak